TUGAS JURNAL ARTIKEL FITRIA KHAIRUNNISA

 PERJALANAN HIDUP DAN KARYA-KARYA BUYA HAMKA

Disusun oleh: Fitria khairunisa(24046111)


    Abstrak

Artikel ini mengkaji perjalanan hidup dan kontribusi Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) sebagai salah satu tokoh intelektual Muslim terkemuka Indonesia abadke-20. Penelitian ini menggunakan metode biografi dengan pendekatan historis untuk menganalisis berbagai aspek kehidupan Hamka, mulai dari latar belakang keluarga, pendidikan, karier sebagai ulama, sastrawan, dan politikus, hingga warisan intelektualnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hamka merupakan sosok multitalenta yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang dakwah, sastra, pendidikan, dan politik Indonesia. Karya-karyanya seperti Tafsir Al-Azhar, novel-novel berlatar Islam, dan berbagaitulisan ilmiah telah memengaruhi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia dan duniaMelayu. 

KATA KUNCI : Hamka, Ulama Indonesia, Buya 

Hamka


PENDAHULUAN:Indonesia telah melahirkan banyak tokoh besar yang memberikan kontribusi pentingbagi perkembangan bangsa, khususnya dalam bidang keagamaan dan intelektual (Noer, 1973). Salah satu nama yang tidak dapat diabaikan dalam sejarah pemikiran Islam Indonesia adalahProf.Dr.Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka. Sosok yang lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908 inimerupakan representasi sempurna dari ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapijuga aktif dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hamka bukanlah sosok yang biasa- biasa saja. Ia adalah seorang autodidak yang berhasil meraih pengakuan internasional melaluikarya-karya monumentalnya (Federspiel 1970). Sebagai anak dari ulama besar Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Hamka tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nuansakeislaman dan semangat pembaharuan. Dalam konteks pemikiran Islam, Hamka dikenal sebagai tokoh yang mengusung paham Islam yang moderat dan inklusif. TafsirAl-Azhar yang ditulisnya merupakan salah satu karya tafsir dalam Bahasa Indonesia yang paling berpengaruh dan masih menjadi rujukan utama bagi umat Islam Indonesia. Melalui tafsirnya, Hamka berhasil menyajikan pemahaman Al-Quran yang kontekstual dan mudah dipahami oleh masyarakat awam tanpa mengurangi kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. 

BIOGRAFI BUYA HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang biasa kita kenal Buya hamka lahir di sungai batang, maninjau (sumatera barat) pada tanggal 17 februari 1908M / 14 muharam 1326 H. Kemudian meninggal di Jakarta, 24 juli 1981 pada umur 73 tahun.Ayahnya buya hamka adalah ulama yang sangat terkenal yaitu, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias haji rasul, pembawa pembaharuan paham-paham islam diminangkabau. Nama Hamka melekat setelah beliau pergi haji untuk pertama kalinya ke mekkah pada tahun 1927. Hamka yaitu potongan dari nama lengkap, Haji Abdul Malik Karim Amrullah waktu masa kecilnya, Buya Hamka dekat dengan andung atau disebut dengan nenek dan kakeknya. Karena ayahnya,adalah ulama tajdid yang banyak diperlukan oleh Masyarakat pada waktu itu sehingga hidupnya haruskeluar dari desa kelahiran Buya Hamka, seperti ke kota padang.Menurut hamka sendiri,dia merasa bahwa terhadap kakek dan neneknya merasa lebih sayang daripada terhadap ayah dan ibunya. Terhadap ayahnya Buya Hamka lebih banyak merasa takut daripada sayangnya(Hamka, 1974). Ayahnya dirasakan kurang mau mengerti jiwa dan rasa kebiasaan anak-anakterkhusus Hamka batas-batas kewajaran adalah masih dianggap umum bahkan demikian menurut Buya Hamka (Hamka,1974). Buya Hamka sendiri masa kecilnya tergolong anak yang Tingkat kenakalannya cukup memusingkan kepala. Kenakalan anak-anak itu mulai tampak tatkala Hamka berusia empat tahun dan mengalami puncaknya pada usia dua belas tahun. Diantara kelakuan-kelakuan yang dianggap nakal, kurang terpuji menurut masyarakat terhadap Hamka, antara lain:

1. Belajarnya tidak karuan dia hanya menyelesaikan sekolah desa sampai kelas II saja dan sekolah diniyah dan tawalib tidak lebih dari lima tahun (Muhammad, 2006)

2. Bergaul dengan para preman, atau masuk kalangan “parewa”, sebab dia juga mengerjakan sebagian dari tingkah laku kelompok itu seperti suka menyabung ayam, latihan silat untuk kepentingan kesukaan berkelahi. 

3. Suka berkeluyuran kemana-mana, seperti sering berbelok niat dari pergi ke surau menjadi pergi ke Gedung bioskop,memanjat pohon jambu milik orang lain, mengambilikan di tebat milik orang lain. kalau keinginan hamka tidak dituruti oleh temannya maka hamka akan mengganggu temannya (Yusuf, 2004). Suka berkeluyuran kemana-mana, seperti sering berbelok niat dari pergi ke surau menjadi pergi ke gedung bioskop, memanjat pohon jambu milik orang lain, mengambil ikan di tebat milik orang lain. kalau keinginan hamka tidak dituruti oleh temannya maka hamka akan mengganggu temannya(Hamka, 1974). 

Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria, juga dikenal sebagai Bagindo Nan Batuah, adalah ibunya. Ia dikenal sebagai instruktur tari, menyanyi, dan pencak silat saat masihmuda. Dia adalah istri ketiga Haka. Syafiyah memiliki empat anak dari pernikahan ini:Buya Hamka, Abdul Kudus, Asman, dan Abdul Muthi. Silsilah ini menunjukkan bahwaia berasal dari keluarga yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasipembaruan Islam Minangkabau pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 (Tamara, 1983). beliaulahir dalam peradaban Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Alhasil, ia berasal dari suku Tanjung dalam garis keturunan Minangkabau, begitu pula ayahnya 

PENDIDIKAN BUYA HAMKA

Pada usia enam tahun (1914), Buya Hamka dibawa ke Padang panjang oleh ayahnya. Pada usia tujuh tahun, ia terdaftar di sekolah pedesaan dan menghabiskan malam hari belajar Alquran dengan ayahnya sampai khatam.Ia pernah belajar agama disekolah diniyah dari tahun 1916 hingga 1923 yang dipimpin oleh ayahnya sendiri. Guru-gurunya waktu itu adalah Sheikh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, dan Zainudin Labay. Padang panjang waktu itu ramai dengan penuntut ilmu agama islam, dibawah pimpinan ayahnya (Hamka, 1983). Buya Hamka adalah anak-nakal Ketika dia berusia antara tujuh dan sepuluh tahun.Ia terkenal sebagai "anak muda yang nakal"sekaligus ulama muda (Yusuf, 2004). Buya Hamka senang mengganggu teman-temannya dengan diam-diam menggunakan menginti pun untuk melihat film di atas panggung tanpa harus membayar. A.R. Sutan Mansur yang berpengaruh besar bagi perkembangan Buya Hamka sebagai da'i, membela nama baik Buya Hamka sebagai anak nakal (Yusuf, 2004) Haji Rasul tidak merasa puas dengan sistem pendidikan yang tidak menyediakan pendidikan agama Islam di sekolah. Oleh karena itu Hamka dimasukkan belajar agama pada sore hari ke sekolah Diniyah yang berada di Pasar Usang, Padang Panjang, yang didirikan oleh Zainuddin Lebay El-Yunisi. Meskipun Hamka telah dimasukkan belajar agama pada sore hari, ternyata Haji Rasul belum merasa puas. Untuk merealisasikan hasrat membentuk anaknya menjadi seorang ulama maka Hamka di masukkan ayahnya ke Madrasah Thawalib yang didirikannya sendiri Perguruan Thawalib dan Diniyah memberikan pengaruh besar kepada Hamka dalam hal ilmu pengetahuan. Sekolah yang mula-mula memakai sistem klasikal dalam belajarnya di Padang Panjang waktu itu. Namun buku-buku yang dipakai masih buku- buku lama dengan cara penghapalan dan menurut istilah Hamka sangat memeningkan kepalanya. Keadaan seperti ini membuat Hamka bosan, menghabiskan waktunya diperpustakaan umum milik Zainuddin Lebay El-Yunisi dan Bagindo Sinaro 

Secara formal, pendidikan yang ditempuh Buya Hamka tidaklah tinggi, hanya sampai kelas tiga disekolah desa, lalu sekolah agama yang ia Jalani di Padang Panjang dan Parabekjuga tak lama, hanya selama tiga tahun. 7 Pada tahun 1935 beliau pulang ke padang panjang, waktu itulah mula tumbuh bakatnya sebagai pengarang buku. Buku yang dikarang pertama kalinya berjudul “Khatibul Ummah”, di awal tahun 1927 beliau berangkat atas kemauan sendiri ke mekah, sambil menjadi koresponden harian “PelitaAndalas” medan. (Muhammad, 2006) Semakin lama semakin jelas coraknya sebagai pengarang, pujangga,dan filosof islam,diakui oleh lawan dan kawannya, dengan keahliannya itu pada tahun 1952. BuyaHamka diangkat oleh pemerintah menjadi anggota badan pertimbangan kebudayaan darikementrian pusat dan menjadi guru besar Pada Perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam Di Makasar dan menjadi penasihat pada kementrian agama. (Muhammad, 2006). 

KARYA-KARYA BUYA HAMKA

Sebagai orang yang berpikiran maju, Buya Hamka menyampaikan ide-ide cemerlang tidak hanya melalui ceramah, pidato, tetapi juga melalui berbagai jenis karya dalam bentuk tulisan. Buya Hamka mulai menulis sejak usia 17 tahun, karyanya cukup banyak baik berupa buku maupun majalah. Orientasi Pemikirannya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, tasawuf, filsafat, pemikiran pendidikan Islam, Sejarah Islam, fiqih, sastra,dan tafsir. Diantara karya-karyanya yang penulis ketahui adalah:

A. Dalam Bidang Agama

1.Khatibul Ummah, Jilid1-3. Ditulis dalam huruf Arab

2.Kepentingan melakukan tabligh(1929). 

3.Hikmat Isra' dan Mikraj. 

4.Arkanul Islam (1932) di Makassar. 5.Majalah 'Tentera' (4nomor) 1932 , diMakassar. 

6.Majalah Al-Mahdi (9 nomor)1932, di Makassar. 

7.Mati mengandung malu (SalinanAl-Manfaluthi) 1934. 

8.Di Dalam Lembah Kehidupan (1939), Pedoman Masyarakat ,BalaiPustaka. 9.Keadilan Ilahi (1939). 

10. Didalam Lembah Cita-Cita, (1946).

B.Dalam Bidang Tawasuf

1.Tashawuf Modern 1939

2. Perkembangan Tasawuf Dari Abad keAbad, (1952)

3. Mengembalikan Tasawuf kePangkalnya(1973)

4. Renungan Tasawuf

C.Dalam Bidang Filsafat

1.Falsafah Hidup 1939. 

2.Lembaga Hidup 1940. 

3.Lembaga Budi 1940. 

4.Negara Islam 1940). 

5.Islam dan Demokrasi 1946. 

Seluruh karya yang dihasilkan buya hamka masih banyak yang terdapat dalam majalah-majalah dan berupa artikel-artikel lainnya tidak terkumpul, namun keterangan dari seorang putra Hamka yaitu rusydi Hamka sebagai berikut: Keseluruhan karya Hamka sebanyak 118 jilid tulisan yang telah dibukukan, namun masih ada yang belum terkumpul dan dibukukan.

Referensi 

Federspiel, Howard M. Persatuan Islam:Islamic Reformin Twentieth CenturyIndonesia.Ithaca:Cornell University Press,1970. 

Gottschalk, Louis. Understanding History:A Primer of Historical Method. New York:AlfredA. Knopf, 1966. 

Herry Muhammad,Tokoh-Tokoh IslamYang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: GemaInsani Press, 2006)

Muhammad, H. (2006). Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Insani Press. abad 20. Gema

Nasir Tamara, Hamka Dimata Hati Ummat, (Jakarta: Sinar Harapan, 1983)

Noer, Deliar. The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942. Singapore: Oxford University Press, 1973. 

Rusydi, Pribadi Dan Martabat Buya Hamka, (Pustaka Panjimas: Jakarta,1983)

Yunan Yusuf,Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar,(Jakarta:Penamadani,2004)

Zulkifli, The Strugle the Shi’i In Indonesia.Leiden : University of Leiden, 2009

Komentar

Postingan Populer